Assalamualaikum...
Semangat hari Senin yaa...
Kemaren weekend hari sabtu tgl 29 Juli 2017 aku mengikuti kegiatan mobile library yang setiap tahun diadakan oleh divisi relawan komunitas Jendela Jakarta.
Nah, untuk pertama kali itu sebenernya kita dari divisi relawan bingung nyari tempat buat moblib. Kita nyari tempat yang sekiranya banyak anak kecil.
Kegiatan moblib sendiri kemaren waktu rapat divisi relawan yang hadir (Hakim, Putri, Heppy, Hilal, Citra, Gea, Soraya, Adib) kita memutuskan buat acaranya seperti perpustakaan keliling.
Adek-adek ada yang mewarnai dan ada yang membaca buku ensiklopedi lalu diceritakan kembali.
Awalnya tempat kita udah survey di RPTRA Kalijodo, karena kemungkinan akan ada banyak anak kecil main disana. Tapi ternyata pada tgl segitu juga udah ada yang mengadakan kegiatan lain. Jadi mau tidak mau kita set ulang untuk lokasi.
Akhirnya kita sepakat untuk ke TPST Bantar Gebang yang ada di Bekasi.
Niat awal kita kumpul buat berangkat bareng dari stasiun Manggarai jam 7. Dan beberapa relawan yang mau gabung udah ada yang sampai di stasiun manggarai dan udah tinggal nunggu yang lain.
Tapi ada juga yang kumpul di perpus manggarai buat ambil barang (buku, pensil warna, hadiah dll).
Setelah semua kumpul di manggarai, kita nunggu kereta arah ke bekasi, dan laammaaaaaa banget nget. Dikarenakan ada gangguan sinyal.
Dan kita juga gak nyangka relawan yang tertarik ikut lumayan banyak, sekitar 25 orang.
Alhasil kita yang udah janjian berangkat jam 7 baru bisa berangkat jam 10. Mana belum sarapan lagi, lemah, letih, lesu, lunglai jadi satu.
Padahal di rundown kita bakal mulai acara jam 9.
Setelah sampai di Bekasi, kita udah mulai pesen ojek online (car) buat menuju ke lokasi moblib.
Kita pesen sekitar 5 mobil dan udah clear.
Aku kebagian semobil sama kak mya, kak anis, kak ayu, kak ariani, dan kak adib.
Kak Mya ini salah satu founder komunitas Dandelion yang menangani rumah ajar di TPST Bantar Gebang.
Kita yang gak tau lokasinya cuma manut manut aja. Ternyata lokasinya jauh banget guyss, JAUH. dan macet.
Dan aku sendiri terpana liat kondisi sekitar lokasi. Jujur ini baru pertama kali aku liat yang namanya TPST.
Ya, seperti ini bertumpuk tumpuk sampah sampai menjulang menjadi gunung.
Akses ke lokasi juga gak mulus, jalanan banyak yang rusak dan sepanjang perjalanan akan berderet-deret truck orange ini.
Nah pemukimannya ada jauh dibalik gunung, gak bakal ada yang nyangka kalau ada rumah-rumah warga.
Setelah perjalanan yang cukup jauh kita akhirnya tiba di lokasi. udah dzuhur, padahal kalo dilihat dari rundown seharusnya acara udah selesai, ini malah belum dimulai.
Pemandangan di lokasi juga seperti ini, banyak sampah. Karena kebanyakan masyarakat sekitar juga mencari rezeki dari sampah-sampah tersebut. Banyak lalat juga, namanya aja TPST ya pasti gitu lah cit.
Setelah itu kita breafing sebentar dan lanjut buat ice breaking pembukaan.
Setelah ice breaking kita lanjut buat acara inti. Ada lomba mewarnai dan baca cerita.
Kebetulan aku snediri menjadi penanggung jawab lomba mewarnai
Acara mewarnai dan membaca sampai jam 2, terus lanjut ice breaking lagi dan bagi bagi hadiah. Adik-adik disana antusias banget, dan mereka baik dan nurut.
Setelah itu acara selesai sekitar jam setengah 4.
Kita foto bersama dan pulang.
Nah pulangnya ini juga drama, kita gabisa pesen mobile online di daerah situ. Kita harus jalan jauh ke sekolah alam sekitar situ.
Sekolah alam ini tempat dimana adik-adik sekolah, yang katanya untuk mereka yang kurang mampu dan anak pemulung. Mereka sendiri sekolah hanya 3 kali dalam seminggu, gak kita yang full 5-6 hari. Lokasinya cukup jauh. Untung kita jalan bareng-bareng jadi gak kerasa capeknya. Setelah drama banyak yang cancel karena lokasi gak ditemuin lah, lokasi jauh lah, lokasi pembuangan sampah lah. Tapi akhirnya nyampek juga di stasiun Bekasi buat balik lagi ke Jakarta.
Intinya kegiatan kemaren itu, aku pribadi seneng banget. Dapet pengalaman baru, dapet sensasi baru. Yang jelas makin bersyukur yang tiada hentinya. Kita bersyukur Tuhan memberikan kita nikmat begitu banyak. Banyak orang atau keluarga yang mungkin ingin menginginkan hidup layak seperti kita. Dan aku sendiri seneng banget, meskipun jauh tapi worth it, serasa gak sia-sia jauh-jauh dan penuh drama tapi lokasi dan adik-adiknya emang layak buat diadakan acara seperti ini. Masyarakat disana juga aware dengan kedatangan kita. Yang jelas mereka senang, kita juga senang.
NB curhat: Di kereta dari Bekasi ke Jakarta aku harus merelakan Iphone ku kerendem air, gara-gara minumku tumpah di tas. Hiksss
Sekian,
12:24
Citra Ayu V




