Masih mampukah bertahan dengan keadaan, yang mungkin saja membuat semakin terluka. Jika saja waktu itu tak perlu mengenal bahkan bertemu, yakinlah ada cara lain yang membuatmu bisa terluka, meskipun bukan dia.
Kadang hati suka memaksakan, apa yang kita mau, apa yang kita ingin.
Namun seharusnya untuk semua yang kau inginkan, pikirlah baik-baik bagaimana jadinya.
Semesta tak selalu memihak, meskipun telah berusaha. Kadang ia coba memberi isyarat untuk kaki berhenti agar tak jatuh lagi. Memang bukan salah kita dan juga bukan salah alam. Namun salahkan pada hati yang masih ingin berlari.
Luapkan emosi jika itu membuat lega, jangan pendam dalam diam. Karena begitu terasa menyakitkan akan selalu menyakitkan.
Dari ujung senja masih bisa kau lihat bagaimana malam tiba. Tak usah risau, mereka akan datang dengan sendirinya. Kau hanya perlu menanti sedikit lagi. Cukup bersabar hingga saatnya tiba.
Kadang hati suka memaksakan, apa yang kita mau, apa yang kita ingin.
Namun seharusnya untuk semua yang kau inginkan, pikirlah baik-baik bagaimana jadinya.
Semesta tak selalu memihak, meskipun telah berusaha. Kadang ia coba memberi isyarat untuk kaki berhenti agar tak jatuh lagi. Memang bukan salah kita dan juga bukan salah alam. Namun salahkan pada hati yang masih ingin berlari.
Luapkan emosi jika itu membuat lega, jangan pendam dalam diam. Karena begitu terasa menyakitkan akan selalu menyakitkan.
Dari ujung senja masih bisa kau lihat bagaimana malam tiba. Tak usah risau, mereka akan datang dengan sendirinya. Kau hanya perlu menanti sedikit lagi. Cukup bersabar hingga saatnya tiba.
Sepertinya langit akan tetap berwarna putih kebiruan atau hitam keabu-abuan
Begitupun dengan hati
menjadi senang, sedih kadang bercampuran.
Bagaimanapun bukan kehendakku menyeimbangkan ini.
Namun tak tau apa yang terjadi, seharusnya aku bisa mengendalikannya.
Mengendalikan rasa yang tumbuh, meskipun silih berganti
Amarah serta rindu menjadi satu
Saat aku selalu tau keadaanmu
Inginku tak bisa mengetahui keberadaan, keadaan, kegiatan mu
Namun lagi lagi, pikiranku selalu tertuju untuk itu.
Ya, aku lemah, aku tak sekuat itu menjaga perasaan
meski terpendam, meski menyakitkan
Tadi malam kamu datang kembali, membuat luka yang mulai memudar tergores lagi
dan rasa canggung beradaptasi kembali
Seharusnya kutekadkan niat untuk benar benar melupakan
namun saat itu juga, tanganku gemetar.
Sebenarnya aku tak tau apa yang kurasakan,
padahal bisa saja kamu akan pergi untuk kesekian kali
Tanpa kabar, tanpa jejak, tanpa pamit, tanpa bicara
Dan saat itu sudah kusiapkan hati ini untuk merelakan
Lagi dan lagi
Seharusnya aku tau, jika kamu tak akan benar benar menetap disini
Aku hanya tempat singgah
Seharusnya aku juga tau, kamu yang kembali nantinya akan pergi, meskipun suatu saat mungkin akan kembali lagi.
Tapi bukankah saat itu hati berubah kembali
Begitupun dengan hati
menjadi senang, sedih kadang bercampuran.
Bagaimanapun bukan kehendakku menyeimbangkan ini.
Namun tak tau apa yang terjadi, seharusnya aku bisa mengendalikannya.
Mengendalikan rasa yang tumbuh, meskipun silih berganti
Amarah serta rindu menjadi satu
Saat aku selalu tau keadaanmu
Inginku tak bisa mengetahui keberadaan, keadaan, kegiatan mu
Namun lagi lagi, pikiranku selalu tertuju untuk itu.
Ya, aku lemah, aku tak sekuat itu menjaga perasaan
meski terpendam, meski menyakitkan
Tadi malam kamu datang kembali, membuat luka yang mulai memudar tergores lagi
dan rasa canggung beradaptasi kembali
Seharusnya kutekadkan niat untuk benar benar melupakan
namun saat itu juga, tanganku gemetar.
Sebenarnya aku tak tau apa yang kurasakan,
padahal bisa saja kamu akan pergi untuk kesekian kali
Tanpa kabar, tanpa jejak, tanpa pamit, tanpa bicara
Dan saat itu sudah kusiapkan hati ini untuk merelakan
Lagi dan lagi
Seharusnya aku tau, jika kamu tak akan benar benar menetap disini
Aku hanya tempat singgah
Seharusnya aku juga tau, kamu yang kembali nantinya akan pergi, meskipun suatu saat mungkin akan kembali lagi.
Tapi bukankah saat itu hati berubah kembali

