Malam ini tujuh September 2018. Tepat pukul 23:39
Aku
Ingin menangis sekencang kencangnya
Teriak sampai habis suara
Untuk sebuah kesakitan
Malam ini sepi, masih seperti biasa.
Jam tidurku sudah tak karuan.
Selalu terbesit untuk mengingat ini itu.
Yang sebenarnya semakin diingat semakin menyakitkan.
Bagiku, banyak hal yang tak bisa dijelaskan
Banyak kisah yg tak ingin diceritakan
Banyak rahasia yang tak ingin diungkapkan.
Aku tak butuh obat agar terlelap tidur
Hanya beberapa bulir air yang tibatiba merembet ke pipi
Sampai kapan?
Entah
Mungkin tiap malam
Tak perlu kau pahami
bait-bait yang kutulis,
cukup baca, dan rasakan.
Perasaan menjadi wanita
pecandu rindu
Aku tau, bukan waktunya kubahas ini.
Jika saja aku sudah berumur lebih setengah abad.
Namun nyatanya, aku masih remaja.
Aku wanita biasa,
yang kadang hanya mencari alasan,
agar tau cara bagaimana bertahan.
Meski sulit.
Seperti kemarin,
Dan
Semakin luka.
Mencoba meredam,
meski tetesan tangis, kadang menggebu.
Kupikir aku akan sembuh,
nyatanya, justru semakin menumbuh.
Tak tau apa yg harus dilalui
Mencoba biasa
Namun tak bisa
Yang pikirannya sedang linglung
Entah apa yang akan terjadi
Menyembunyikan ekspresi
Ketika tak yakin diri mampu jalani
Antara hati dan tindakan
Sesekali datang
Nyatanya tetap keberatan
Hallo.....
Mau tanya nih, pengen tau dong...
Ini tentang kegiatan/rutinitas...
Kalau boleh tau, apa yg ada dipikiranmu saat kamu melakukan hal yg kamu sukai?
Kalau boleh tau, apa yg ada dipikiranmu saat melakukan hal yg kamu benci?
Kalau boleh tau, seberapa bahagiakah saat kamu melakukan hal yg kamu sukai?
Kalau boleh tau, seberapa marah/sedih saat kamu melakukan hal yg kamu benci?
...............
Bagiku setiap perasaan punya kadar masing masing. Bahkan kadang pernah dalam satu waktu aku merasa sedih saat melakukan hal yg ku sukai. Padahal DISUKAI kok marah? Kok sedih?
Banyak alasan dan banyak hal yg bisa mengubah mood. Ada beberapa hal yg mungkin memang sulit dijelaskan. Kadang kita benci melakukannya, tapi masih saja dilakukan lagi dan lagi.
Seolah olah hal yg lalu tidak pernah terjadi.
Bagiku mengubah perasaan itu mudah, tapi mengubah kebiasaan yg sulit. Kenapa? Karena ketika kebiasaan itu berlanjut, maka apapun resikonya kita pasti menerima. Apapun mood nya, apapun situasinya, kita pasti memaklumi. Bahkan seolah olah kita merasa acuh. Padahal jika dipikir, banyak sekali hal hal yg tidak kita sukai. Tapi karena terbiasa, rasa tak suka itu memudar lagi.
Yaa, dari situlah aku berpikir. Setiap kegiatan, setiap hal sekecil apapun, pasti akan ada suka dan duka. Pasti ada moodbooster dan moodbreaker. Pasti ada senang dan sedih. Pasti ada nyaman dan jengkel. Tapi... Apakah ketika kita tidak melakukan kegiatan tersebut perasaan kita akan bahagia selalu? Akan nyaman selalu? Jawabannya belum tentu.
Bagiku lakukan semua hal meskipun itu hal sepele, hal kecil. Karena kita tidak tau letak kebahagiaan yg kita cari. Kalaupun nanti yang didapat rasa sedih. Tak apa. Cukup syukuri semua proses. Melangkah lagi dan lagi, hingga dapat apa yg kamu cari.
Malam ini, ditemani suara gemericik air hujan yang tak terlalu deras. Aku duduk dibawah, lantai kamar kos yang sudah seharian ini tak kutinggal kemana mana.
Ditemani suara ketikan dari jemariku, yaah malam ini aku mengerjakan tugas kuliah. Masih seperti biasa.
Dan pada beberapa menit lalu, tiba tiba air mataku jatuh. Tanpa ada niat, tanpa aku sadar.
Semenit kemudian, dadaku sesak. Bukan karna sakit, tapi karna menahan air mata.
Tak kutau sebabnya, yg jelas aku sedih. Entah karena apa.
Kalian tau, kutulis cerita ini sembari mengusap usap air mata yang sudah berkali kali jatuh.
Ditemani aroma petrikor, membuatku tak ingin melakukan apapun. Aku hanya ingin bercerita tentang ketidakjelasan perasaanku saat ini.
Beberapa minggu ini memang banyak sekali yang aku pikirkan, bahkan mungkin sudah menjadi beban. Jujur aku tak ingin itu terjadi. Namun sayangnya, apa boleh buat. Nyatanya aku sama sekali tak mengerti bagaimana perasaan dan bagaimana hati ini berkerja.
Seperti malam ini, malam yang sangat biasa dan sering kulakukan. Tiba tiba menjadi sendu. Tanpa tau sebab.
.
.
Hallo,
Kalau kalian denger kata "Tanggung Jawab" apa sih yang ada dibenak kalian?
Rasa tanggung jawab adalah suatu pengertian dasar untuk memahami manusia sebagai makhluk susila, dan tinggi rendahnya akhlak yang dimilikinya. (Sumber wikipedia)
Tanggung jawab itu menurut aku pribadi adalah sebuah tolak ukur sikap manusia yang berkewajiban, yang mengerti apa yang seharusnya mereka lakukan.
Sebenarnya aku nulis ini, karena 30 menit yang lalu aku baca artikel tentang Bapak Mochammad Zaini (Alm), Beliau adalah TKI yang dihukum mati di Saudi Arabia karena diduga membunuh majikannya.
Entah kenapa aku bacanya sedikit miris, sungguh. Memang pada dasarnya aku gak begitu mengikuti berita ini. Cuma dari beberapa artikel yang aku baca, menunjukkan bahwa beliau diperlakukan tidak adil. Yang katanya beliau didesak untuk mengakui membunuh, padahal beliau tidak melakukan, yang katanya pembela(pengacaranya) ikut memojokkan, yang katanya karena keterbatasan bahasa, maka beliau dijebak dll. Wallahu
Jujur aku gak ngikutin sama sekali berita ini, kejadiannya juga udah cukup lama, tahun 2008. 10 Tahun yang lalu. which is aku masih umur 10 cooyy. mana ngerti berita. hehe
Dan baru dieksekusi tahun ini (2018).
Balik lagi,
terlepas dari berbagai spekulasi yang beredar. Ada satu hal yang aku kagumi dari beliau. Yaitu rasa tanggung jawabnya.
Beliau kerja jadi TKI ke Arab bukan karena beliau kabur dari rumah, berantem, ada kasus atau sebagainya, Beliau memberanikan diri jadi TKI jauh dari keluarga, karena ingin memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami, seorang bapak, seorang kepala keluarga.
Beliau juga setelah dipenjara, masih memikirkan tanggung jawab untuk menafkahi keluarganya dengan menjadi tukang cukur. Itu bukan hal yang mudah bagi seseorang yang tertekan, yang merasa tidak adil, yang jauh dari keluarga, yang dimana posisinya beliau dipenjara. Tapi beliau mampu menjalankan itu. Sesuatu yang sangat-sangat membuatku merasa bangga kepada beliau. Tanggung jawab itu beliau bawa sampai hari dimana beliau menghembuskan nafas terakhir.
Jikalau memang beliau tidak membunuh, sungguh sabar sekali, sungguh ikhlas untuk menjalaninya. Jaminan Surga. Terlebih jika memang beliau teraniaya, diperlakukan tidak adil.
Kenapa aku disini tidak membela beliau, karena aku memang gak tau kejadian yang sebenarnya. Jadi aku hanya menyalurkan pandanganku dari apa yang aku baca.
Ini hanya opiniku terhadap kejadian ini. Terlepas dari benar tidaknya terjadi pembunuhan itu. Yang jelas menurutku Bapak Zaini sudah menjalankan tugasnya sebagai suami, bapak, kepala rumah tangga dengan amat sangat baik. Bagaimana beliau masih memikirkan tanggung jawab yang harus beliau lakukan untuk keluarga, bagaimana beliau tetap menomor satukan keluarga.
Seburuk apapun seorang bapak/ayah, tetap bagi anak-anaknya mempunyai satu sisi yang berbeda.
Mau seorang bapak mabuk/judi/selingkuh/membunuh dll, tetap seorang anak akan memiliki sisi positif yang ia rindukan dari bapaknya, yang akan mereka contoh.
Mereka punya memori sendiri untuk menerjemahkan rasa sayang mereka kepada bapaknya.
Sekian.
Aku pernah terbangun dalam keadaan gamang, sebab harapan yang terlalu tinggi.
Pernah juga terbangun dalam keadaan mati, sebab dibunuh oleh mimpi.
Tapi sekali, aku terbangun dalam keadaan hidup, namun segalanya telah berhenti.
Aku tidak mati, hanya cerita yang kuakhiri. Lalu terjerat ingatanku, pada durma yang menyebar kebencian.
Aku terlalu mengabaikan logika, hingga perasaan merajai seluruh indera. Aku buta, pada kenyataan. Aku tuli, pada bisik-bisik kebenaran. Aku kebas, pada sentuhan. Aku bisu, pada kejujuran.
Dan hanya getir, yang kukenal di ujung bibir. Kau pernah membawaku pada sebuah titik, dan mengikatku hingga tak berkutik. Lalu kau biarkan segerombolan burung-burung pemakan bangkai, menghabisi harapanku yang abai.
Kala itu, aku mentitikan kisahku. Aku mengakhiri cerita yang bermain di kepala–yang di dalamnya, kau lah pemeran utama yang kusanjung di hadapan Tuhan. Kemudian lahir sebuah pertanyaan, kau pergi dengan tawa atau airmata?
Namun yang kutahu, ketika kutitikan kisahku, Tuhan mengenalkanku pada koma; dimana kisah hanya dipisah unsurnya, bukan dihentikan ceritanya.
Dan kini, aku terbangun dalam keadaan mengerti, bahwa bagi Tuhan, kata "selamanya", adalah kata yang memiliki makna terlalu lama. Lalu koma, layaknya sosok senja yang bertugas membagi masa. Dan kau; pagi yang kurelakan, teruntuk pagi yang lain–yang juga akan digantikan. Hingga malam, akan kembali menjadi teman setia, dalam perjalanan.
a-hap



