AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG

By tea shirt - Saturday, August 16, 2014


"Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya?

Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya.

Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya."

*

Ayahku (Bukan) Pembohong merupakan sebuah novel dari penulis terkenal Darwis Tere Liye. Ayahku (Bukan) Pembohong bercerita tentang Dam, Seorang anak laki - laki yang tumbuh besar dalam kehidupan sederhana dengan cerita - cerita Heroik dari ayahnya. Sejak kecil, Dam amat menyayangi ayahnya, menyukai setiap cerita ayahnya, cerita dengan ayah sebagai tokoh utamanya. Baginya, Ayah adalah Inspirasi terbesarnya. Cerita - cerita itu menjadi motivasi untuk Dam, Cerita - cerita itu membentuk kepribadian Dam menjadi seorang anak yang berbeda.

Namun, setelah ia melanjutkan sekolah di sebuah akademi, bernama akademi gajah, ia mulai menemukan sebuah kejanggalan. Ia menemukan sebuah buku yang sama persis dengan cerita ayahnya. Saat itu lah Dam mulai ragu, dan perlahan - lahan ia tidak mempercayai ayahnya, ia mengganggap ayahnya pembohong. Dan puncaknya adalah ketika ibunya meninggal, mulai saat itu lah Dam benar - benar membenci ayahnya.

Setelah Menyelesaikan sekolah di akademi gajah, Dam melanjutkan sekolah dan menjadi seorang Arsitek. Setelah itu ia kembali bertemu dengan teman masa kecilnya Taani, dan Dam Menikah dengan Taani. Dam masih tidak menyukai ayahnya, dan Taani bersikeras membujuk dan untuk berhenti membenci ayahnya. Namun, Dam masih tidak bisa, apalagi semenjak ayahnya tinggal bersama mereka, ayahnya kembali menceritakan cerita - cerita yang menurutnya hanya kebohongan semata kepada anak - anaknya, Zas dan Qon.

Karena Dam keberatan dengan cerita ayahnya kepada anak - anaknya dan melarangnya, maka ayah Dam memutuskan untuk pergi dari rumah Dam. Ayah Dam sakit, di akhir hayatnya ia menceritakan sebuah cerita bahwa sebenarnya selama ini Dam salah. Ia salah dengan menyangka bahwa ibunya selama ini tidak bahagia. Ibunya sangat bahagia. Dan saat ayahnya meninggal, Dam sadar bahwa ia salah, semua cerita tentang perjalannnya, tentang suku penguasa angin, apel emas lembah bukhara, sang kapten, raja tidur, dan ibunya itu memang benar. Saat itu lah Dam sadar dan mengakui bahwa Ayahku (Bukan) pembohong.

*
Seperti halnya novel Bidadari - bidadari Surga , Novel ini pun menggunakan alur maju mundur dalam ceritanya. Berawal dari bayangan Dam saat melihat ayahnya bercerita kepada anak - anaknya, satu persatu cerita - cerita itu muncul. Saat saya membaca novel ini, novel ini terasa sangat sederhana. Cerita tentang anak dengan ayahnya. Namun, saat kita selesai membaca novel ini, akan terasa bahwa novel sederhana ini ternyata sangat sarat akan makna. Banyak sekali pelajaran, kebijaksanaan yang terkandung didalamnya. Ada satu bagian di bab terakhir yang sangat saya sukai sekaligus membuat saya sangsi. Saat itu ayah Dam bercerita tentang alasan kenapa ibunya sangat bahagia. Ia menceritakan kearifan yang ayahnya pelajari dari perjalanannya, yaitu tentang definisi kebahagiaan hidup. Terdengar agak klise sih, tapi entah mengapa kalimat - kalimatnya selalu terngiang - ngiang, melintas di kepala. Memang tidak ada yang salah dengan teori tersebut, mungkin hanya aku saja yang belum bisa menerimanya, terlalu pesimis karena pengaruh keadaan sekarang. Tetapi kalimat - kalimat tersebut sukses menyadarkanku tentang apa sebenarnya yang aku cari selama ini.

Dan, satu lagi - lagi novel tere liye sukses untuk mengaduk - ngaduk perasaanku, membawa kita untuk berfikir, merenung, untuk menjadi orang yang lebih baik. Selamat membaca, selamat bersenang - senang.

*

“Apa definisi kebahagiaan? Kenapa tiba-tiba kita merasa senang dengan sebuah hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa kita tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan atau sekedar kabar buruk? Kenapa hidup kita seperti dikendalikan sebuah benda yang disebut hati?”

“Apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? Dengan memahaminya, seluruh kesedihan akan menguap seperti embun terkena sinar matahari. Dengan memilikinya, setiap hari kita bisa menghela napas bahagia.”

“Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasal dari kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga berasal dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan.”

“Berbeda halnya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati. Mata air dalam hati itu konkret, Dam. Amat terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh kau mendapatkan kesenangan, keberuntungan, kau bisa ikut senang dengan kabar baiknya, ikut berbahagia, karena hati kau lapang dan dalam. Sementara orang-orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih, bahkan ketika sahabat baiknya mendapatkan nasib baik, dia dengan segera iri dan gelisah. Padahal apa susahnya ikut senang.”

“Itulah hakikat sejati kebahagiaan, Dam. Ketika kau bisa membuat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih.”

“Kebahagiaan itu datang dari hati sendiri, bukan dari orang lain, harta benda, ketenaran, apalagi kekuasaan. Tidak peduli seberapa jahat dan merusak sekitar, tidak peduli seberapa banyak parit-parit itu menggelontorkan air keruh, ketika kau memiliki mata air sendiri dalam hati, dengan cepat danau itu akan bening kembali.”

  • Share:

You Might Also Like

0 comments