AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG
"Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita?
Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan
terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas
menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya?
Inilah
kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng
kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci
ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika
kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara
terbaik untuk menjelaskannya.
Mulailah membaca novel ini dengan
hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat
mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak
pernah sempat mengatakannya."
*
Ayahku (Bukan)
Pembohong merupakan sebuah novel dari penulis terkenal Darwis Tere Liye.
Ayahku (Bukan) Pembohong bercerita tentang Dam, Seorang anak laki -
laki yang tumbuh besar dalam kehidupan sederhana dengan cerita - cerita
Heroik dari ayahnya. Sejak kecil, Dam amat menyayangi ayahnya, menyukai
setiap cerita ayahnya, cerita dengan ayah sebagai tokoh utamanya.
Baginya, Ayah adalah Inspirasi terbesarnya. Cerita - cerita itu menjadi
motivasi untuk Dam, Cerita - cerita itu membentuk kepribadian Dam
menjadi seorang anak yang berbeda.
Namun, setelah ia melanjutkan
sekolah di sebuah akademi, bernama akademi gajah, ia mulai menemukan
sebuah kejanggalan. Ia menemukan sebuah buku yang sama persis dengan
cerita ayahnya. Saat itu lah Dam mulai ragu, dan perlahan - lahan ia
tidak mempercayai ayahnya, ia mengganggap ayahnya pembohong. Dan
puncaknya adalah ketika ibunya meninggal, mulai saat itu lah Dam benar -
benar membenci ayahnya.
Setelah Menyelesaikan sekolah di akademi
gajah, Dam melanjutkan sekolah dan menjadi seorang Arsitek. Setelah itu
ia kembali bertemu dengan teman masa kecilnya Taani, dan Dam Menikah
dengan Taani. Dam masih tidak menyukai ayahnya, dan Taani bersikeras
membujuk dan untuk berhenti membenci ayahnya. Namun, Dam masih tidak
bisa, apalagi semenjak ayahnya tinggal bersama mereka, ayahnya kembali
menceritakan cerita - cerita yang menurutnya hanya kebohongan semata
kepada anak - anaknya, Zas dan Qon.
Karena Dam keberatan dengan
cerita ayahnya kepada anak - anaknya dan melarangnya, maka ayah Dam
memutuskan untuk pergi dari rumah Dam. Ayah Dam sakit, di akhir hayatnya
ia menceritakan sebuah cerita bahwa sebenarnya selama ini Dam salah. Ia
salah dengan menyangka bahwa ibunya selama ini tidak bahagia. Ibunya
sangat bahagia. Dan saat ayahnya meninggal, Dam sadar bahwa ia salah,
semua cerita tentang perjalannnya, tentang suku penguasa angin, apel
emas lembah bukhara, sang kapten, raja tidur, dan ibunya itu memang
benar. Saat itu lah Dam sadar dan mengakui bahwa Ayahku (Bukan)
pembohong.
*
Seperti halnya novel Bidadari - bidadari
Surga , Novel ini pun menggunakan alur maju mundur dalam ceritanya.
Berawal dari bayangan Dam saat melihat ayahnya bercerita kepada anak -
anaknya, satu persatu cerita - cerita itu muncul. Saat saya membaca
novel ini, novel ini terasa sangat sederhana. Cerita tentang anak dengan
ayahnya. Namun, saat kita selesai membaca novel ini, akan terasa bahwa
novel sederhana ini ternyata sangat sarat akan makna. Banyak sekali
pelajaran, kebijaksanaan yang terkandung didalamnya. Ada satu bagian di
bab terakhir yang sangat saya sukai sekaligus membuat saya sangsi. Saat
itu ayah Dam bercerita tentang alasan kenapa ibunya sangat bahagia. Ia
menceritakan kearifan yang ayahnya pelajari dari perjalanannya, yaitu
tentang definisi kebahagiaan hidup. Terdengar agak klise sih, tapi entah
mengapa kalimat - kalimatnya selalu terngiang - ngiang, melintas di
kepala. Memang tidak ada yang salah dengan teori tersebut, mungkin hanya
aku saja yang belum bisa menerimanya, terlalu pesimis karena pengaruh
keadaan sekarang. Tetapi kalimat - kalimat tersebut sukses menyadarkanku
tentang apa sebenarnya yang aku cari selama ini.
Dan, satu lagi -
lagi novel tere liye sukses untuk mengaduk - ngaduk perasaanku, membawa
kita untuk berfikir, merenung, untuk menjadi orang yang lebih baik.
Selamat membaca, selamat bersenang - senang.
*
“Apa
definisi kebahagiaan? Kenapa tiba-tiba kita merasa senang dengan sebuah
hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa kita tiba-tiba
sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan atau sekedar
kabar buruk? Kenapa hidup kita seperti dikendalikan sebuah benda yang
disebut hati?”
“Apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? Dengan
memahaminya, seluruh kesedihan akan menguap seperti embun terkena sinar
matahari. Dengan memilikinya, setiap hari kita bisa menghela napas
bahagia.”
“Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat
itu berasal dari kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan
hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati
lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah
merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati
kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang
datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar.
Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya
rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga berasal
dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau
seketika keruh berkepanjangan.”
“Berbeda halnya jika kau punya
mata air sendiri di dalam hati. Mata air dalam hati itu konkret, Dam.
Amat terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira.
Bahkan ketika musuh kau mendapatkan kesenangan, keberuntungan, kau bisa
ikut senang dengan kabar baiknya, ikut berbahagia, karena hati kau
lapang dan dalam. Sementara orang-orang yang hatinya dangkal, sempit,
tidak terlatih, bahkan ketika sahabat baiknya mendapatkan nasib baik,
dia dengan segera iri dan gelisah. Padahal apa susahnya ikut senang.”
“Itulah
hakikat sejati kebahagiaan, Dam. Ketika kau bisa membuat hati bagai
danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya
tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana,
dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas
pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih.”
“Kebahagiaan itu
datang dari hati sendiri, bukan dari orang lain, harta benda, ketenaran,
apalagi kekuasaan. Tidak peduli seberapa jahat dan merusak sekitar,
tidak peduli seberapa banyak parit-parit itu menggelontorkan air keruh,
ketika kau memiliki mata air sendiri dalam hati, dengan cepat danau itu
akan bening kembali.”

0 comments