Kemarahan Terbesar

By tea shirt - Sunday, March 03, 2019

Hari itu tepatnya Jumat ketika aku baru saja pulang ke rumah. Ya aku pulang 1 minggu sekali, hari jumat atau sabtu.

Pulang dengan badan yg cukup lelah, lapar, lesu, dan rasa dongkol yg cukup terpendam, karena mama gak bisa dihubungi untuk menjemputku di terminal.

Aku menunggu cukup lama, bahkan sudah malam. Tapi masih tidak ada kabar. Kenapa aku menunggu? Karena memang biasanya mama selalu menjemput di terminal ketika aku pulang, daripada naik ojek pangkalan yg terbilang cukup mahal waktu itu.  Karena rumahku cukup jauh juga.

Dengan tekad bulat, aku menghampiri pangkalan ojek dan menuju pulang ke rumah.

Sampai di rumah, rumah gelap. Semua pintu terkunci. Padahal itu sudah jam 7 malam lebih, aku bingung kemana mama pergi. Dan akhirnya aku ngungsi ke rumah saudara yg tak jauh dari rumahku.

Rasa mulai campur aduk antara marah, penasaran, khawatir dan banyak lagi.

Sampai akhirnya jam 11 malam, ketika aku bahkan sudah tertidur hanya dengan seragam yg masih aku pakai dari pagi, mama datang menjemput.

Pulang ke rumah.

Ada laki-laki di ruang tamu. Jujur aku terkejud. Rasa capek ku belum hilang. Ada pertanyaan aneh-aneh yg terlintas di otakku.

Aku langsung ke belakang, mandi ganti baju.
Laki-laki itu masih disana.
Aku tidak menyapa, langsung masuk ke kamar.
Mama menghampiriku, dan bilang kalau dia mau mengenalkan laki-laki itu sebagai calon ayahku.

Dan aku tidak menjawab.
Masih memunggungi mama, tanpa suara.

Sampai akhirnya puncak amarahku mulai tak kuat kutahan. Setiap mama ngomong, aku teriak.
Dan mama meninggalkanku sendiri di kamar.

Esok harinya aku tidak keluar kamar sama sekali setelah menangis semalaman karena aku belum rela jika posisi almarhum ayah digantikan orang lain.

Masih sama, hari sabtu juga masih mengurung diri. Anehnya tidak ada rasa haus, lapar, atau apapun itu. Kamar ku kunci dan hanya aku sendiri.

Akung (kakek) datang, kasih beberapa penjelasan, beberapa petuah dari balik pintu. Aku masih menangis di kamar sendiri.

Sampai akhirnya akung punya kata-kata yg buat aku membukakan pintu dan menangis sekencang kencangnya.

Sejak saat itu aku mulai berpikir bahwa aku tidak boleh egois, saatnya mama punya kehidupan baru, punya kebahagiaan baru, adikku punya sosok ayah.

Pada akhirnya bukan laki-laki itu, mungkin memang sudah ditakdirkan Tuhan, ternyata dalam perjalanannya dia tidak bersama mama. Sekarang mama sudah bersama orang yg sangat baik. Setidaknya saya sudah ikhlas jika posisi ayah harus digantikan.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments