Cuplikan Video
Pernah suatu waktu ada pelajaran agama di sekolah, seingatku waktu itu masih kelas 10 dan juga masih baru masuk dunia SMK.
Entah aku sudah lupa membahas tentang apa, yang kuingat guru memutarkan video tentang dunia dan akhirat.
Waktu itu ayah lagi sakit, baru masuk rumah sakit lagi. Aku masih jauh dari beliau, karena harus sekolah dan tidak memungkinkan untuk pulang pergi dari rumah.
Salah satu cuplikan yang masih aku ingat sampai sekarang adalah tentang kematian seseorang. Setelah ia meninggal, ia tak membawa apa-apa.
Keluarga, istri, jabatan, harta dan semuanya tidak ikut bersamanya.
Yang dibutuhkan adalah doa.
Dan dari cuplikan tersebut terpampang bahwa nanti secara perlahan ia akan terlupakan.
Anaknya semakin dewasa semakin sibuk, Istrinya menjalani hidup dengan pasangan baru.
Dan semakin tak ada waktu untuk mengingat.
Itu yang akh takutkan ketika mama memilih untuk menikah lagi.
Yang aku pikirkan saat itu hanya bagaimana perasaan ayah saat tau posisinya digantikan.
Dan dari cuplikan video yang pernah aku liat saat sekolah seolah benar terjadi. Dengan perlahan ayah bukan lagi prioritas dan semakin terlupakan.
Dari sana, aku ingin selalu mendoakan ayah, selalu mengingat beliau. Hingga curahan perasaanku tertulis dalam puisi Hanya Aku yang Rindu.

0 comments