Meresapi Rasa Kehilangan #PART1

By tea shirt - Thursday, August 03, 2017




Waktu itu hari terasa begitu lambat, semestinya tidak. Karena hari itu sama dengan hari lainnya. Aku merasa diriku ada di dalam bumi yang berbeda. Sesekali aku memohon kepada sang Pencipta agar mempercepat waktuku sampai dirumah. Namun sayang, Tuhan memberikan aku kelambatan yang tak kuduga, agar aku tak melihat betapa tersiksa beliau saat detik terakhirnya.

Jikalau mungkin waktu itu aku ada di sampingnya, menemani setiap hembusan nafas terakhirnya. Aku tak akan semenyesal sekarang. Ya, hal yang paling aku sesalkan adalah tak berada di sisinya.

Saat itu, aku mencoba tetap tegar, selama perjalanan aku mencoba menegarkan diri. Betapa tidak, aku memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Meskipun aku tak tau kehendak Tuhan apalagi yang akan diberikan kepadaku.

Rasa tegar itu hilang, saat semua orang memandangku dengan iba, didepan rumah aku mulai berlinang air mata, dan disambut sanak saudara serta tetangga.
Aku mencoba tegar untuk sekali lagi, tapi tidak mungkin bisa. Ketika melihat jenazah ayahku aku ingin menangis di sampingnya, namun juga tak bisa.
Melihat keluarga yang berusaha menegarkan mama dan adikku, melihat adikku yang masih kecil menangis. Melihat teman-teman dan saudara yang memelukku. Setidaknya hari itu aku berjuang untuk membuat mereka tak khawatir.
Sampai tiba saat ayah akan dimakamkan, aku masih berusaha tegar. Tapi mencoba pun tak bisa. Justru saat itulah aku menangis sejadi-jadinya, karena tidak ada mama dan adikku yang akan melihat aku serapuh ini.

Tiga hari setelah kepergian ayah, seharusnya kita merayakan ulang tahun beliau. Tapi apa yang sudah terjadi sudah menjadi garis Illahi. Ayah pergi tepat tiga hari sebelum ulang tahun ke-48. Rencana yang kita susun untuk menyambut hari bahagia, berubah menjadi tetesan air mata.

Mengingat hari itu sungguh menyesakkan. Sangat.

Satu tahun terlewati. Masa yang sangat berat bagi keluarga kami. Mama yang harus berjuang agar aku tetap sekolah, Adikku yang masih kecil membutuhkan sosok ayah.
Ya benar.
Aku adalah anak kesayangan, aku manja. Jika dulu setiap aku minta sesuatu hanya tinggal meminta, semenjak ayah pergi aku pun harus berjuang untuk sesuatu yang ku inginkan. Aku mencoba menjadi anak yang mandiri, yang berpikir luas. Satu hal juga, Sebisa mungkin aku tak pernah menangis di depan mama ataupun adikku. Karena aku tau itu akan membuat mama semakin rapuh.

Tahun pertama setelah kehilangan ayah, ekonomi keluarga berantakan. Mama berjuang, aku pun berjuang. Tapi tak hanya itu. Tahun pertama adalah tahun paling berat, seperti merayakan ulang tahun tanpa ayah, tanda tangan rapor yang biasanya ada nama ayah disana berubah menjadi nama mama. Lebaran pertama tanpa ayah, jelas penuh air mata.

Ya seperti itu.

Tahun kedua mungkin kami sekeluarga sudah cukup tau akan kondisi kita. Tahun kedua memang tak se-drama tahun pertama, namun tetap saja. Masih membekas.
Ternyata sudah dua tahun ayah pergi, tapi perasaan kehilangan itu masih ada. Seperti masih kemarin, saat beliau mengajakku bicara, men support ku untuk semangat, memanjakannku, masih terasa.
Tahun kedua ini, aku kembalikan keceriaan ku. Mungkin tahun ini juga aku merasa tak ingin menjadi diri yang terpuruk. Ya, mungkin memang aku tertawa, tapi tahukah, aku merasa membohongi diri sendiri saat siang tertawa dan ketika menjelang tidur pasti menangis. Memang bukan tangisan sendu, hanya beberapa tetes air mata yang muncul ketika menjelang tidur, berdoa kepada Tuhan untuk menerima ayahku di surga. Selalu seperti itu.

Dan lagi-lagi, memang masih terasa seperti kemarin.

.
.
.
.
10.05
Citra Ayu V

  • Share:

You Might Also Like

0 comments