Meresapi Rasa Kehilangan #PART2

By tea shirt - Thursday, August 03, 2017


Kulanjutkan ceritaku...
Memang, mungkin sebagian orang menganggap aneh, dengan bangganya membohongi diri sendiri agar terlihat tak terjadi apa-apa.
Kala itu aku pun mempunyai seseorang yang mungkin bisa disebut tambatan hati. Dia support aku, memberikan semangat.
Tapi aku memilih mengakhiri, dan menyembuhkan lukaku sendiri. Dua tahun bersama nyatanya kita punya jalan berbeda.
Aku memilih mundur. Aku ingin sendiri meresapi hari-hari tanpa ada dia. Ya, bukan apa-apa, aku memilih mengakhiri hubunganku karena aku mulai memikirkan masa depanku. Dan memang benar, kita tak sepemikiran.
Setelah aku memilih sendiri, nyatanya rasa masih sama. Tapi kucoba menepis semua tentangnya. Dari dia yang terus menghubungiku, datang kerumahku, selalu ku acuhkan. Tapi dia mengerti, bahkan sampai sekarang kita masih berteman baik. Dia yang telah bahagia bersama orang lain, dan aku bahagia bersama diriku sendiri.
Tahun ketiga, rasa kehilangan mulai pudar. Kehilangan ayah masih terasa, kehilangan dia sudah musnah. Ya, masih sesak saat mengingat lagi saat hari kehilangan ayah. Tetapi nyatanya sudah mulai terbiasa.
Mencoba mengikhlaskan itu yang sulit, mengikhlaskan segala seuatu yang bahkan hanya titipan Tuhan. Mungkin sabar masih bisa kita tahan, tapi ikhlas yang membuat kita sulit melakukan. Jika dibilang ikhlas saat ayah dipanggil Tuhan, aku ikhlas. Tapi kadang aku berpikir jika seandainya ayah masih ada akan seperti ini seperti itu, selalu.
Tahun ketiga aku mencoba mengobati luka asmara yang perlahan-lahan mulai sembuh. Memang belum sempurna, tapi apa salahnya mencoba. Aku mengenal seseorang yang mungkin menjadi orang yang kukagumkan. Kami dekat. Aku suka setiap dia berbicara, tingkah lakunya, semua tentangnya.
Ditahun ini pula aku harus memutuskan pindah ke luar kota demi pekerjaan. Menghidupi mama dan adikku agar tak hidup dari kata keterpurukan. Namun Tuhan berkata lain, dia yang kupikir bisa menerimaku ternyata memilih pergi, memilih wanita yang selalu didekatnya. Dan lagi-lagi rasa kehilangan itu muncul setelah terobati. Dia tidak jahat, dia hanya tak ingin menyakitiku lebih lama. Dia meminta izin kepadaku untuk mencintai orang lain. Dan aku hanya berkata "iya".
Setelah beberapa bulan, rasa kehilangan bertambah saat teman seangkatan mengalami musibah dan harus dipanggil Tuhan. Ya, aku merasakan kesedihan. Dua tahun sekelas dan bisa dibilang cukup dekat. Kita kenal saat pertama kali masuk sekolah, saat MOS, satu regu dan dia dan aku cukup mengenal dekat, meskipun kalau di kelas kita pasti berantem. Tapi rasa kehilangan pasti ada. Pasti.
Sepertinya hati ini sudah terbiasa untuk menghadapi kehilangan.
Tahun ini adalah tahun keempat setelah cerita singkat yang kutulis. Bukan tak mungkin aku menangis tiap akan menulis tentang ini.
Tahun keempat aku mulai merasakan menjadi diri sendiri, sudah tak kubohongi diri ini. Karena mungkin aku lebih bahagia dari yang sebelumnya. Bertemu orang baru, lingkungan baru, teman baru. Setidaknya aku tak perlu berpura-pura bahagia. Setidaknya aku hanya ingin meneruskan mimpiku yang tertunda. Setidaknya aku mencoba melupakan rasa sakit yang pernah ada.

Dan semoga, tahun-tahun berikutnya menjadi lebih indah lagi. Aku berharap tak ada rasa kehilangan yang datang.

Karena sesungguhnya rasa yang paling sakit adalah rasa kehilangan.


11.03
Citra Ayu V

  • Share:

You Might Also Like

0 comments