Hari ini, kutulis sebuah cerita tentang masa lalu. Ya, masa lalu yang didalamnya ada dirimu.
Kemudian aku beranjak untuk mengingat-ingat kenangan yang pernah ada.
Tapi bukan kuceritakan untuk dirimu, tapi untuk mereka yang akan membaca kisahku.
Bermula saat aku dan dirinya bertemu, aku lupa kapan waktu itu. Tapi yang kuingat dia menyapaku dengan senyuman dan tak pernah kubalas. Kita kenal karena teman kita sama.
Setelah beberapa waktu lamanya, dia ingin menghubungiku. Meminta nomor telponku kepada temanku. Setiap malam dia selalu kirim pesan, tapi tak pernah kubalas sekalipun.
Hingga akhirnya entah niat apa yang membuatku membalas pesan singkatnya yang hanya bertuliskan "Hai". Satu kata yang tak pernah kuduga akan menjadi sebuah perbincangan seru yang menghadirkan tawa.
Meski awalnya dia tak yakin aku akan membalasnya, meski aku membalas hanya satu dua kata, meski aku tak pernah melontarkan pertanyaan agar perbincangan terus berlanjut. Seperti itulah aku.
Setelah beberapa lama, dan beberapa kali kita bertemu, akhirnya dia menyatakan rasa.
Entah bagaimana dia merebut perhatianku dengan caranya sendiri. Lucu memang, sebatas itu aku menerima.
Selama dua tahun berpacaran dengannya, banyak cerita, pasti kenangan juga. Jika hari ini aku tulis cerita saat bersamanya, rasanya geli.
Setelah pacaran kita tak pernah intens saling menghubungi. Mungkin bisa dibilang hanya seminggu sekali dia akan kirim pesan singkat menanyakan kabarku. Selalu seperti itu. Seolah kita baru kenal. Ya, kita memang jarang bertemu, atau mungkin kita hanya bertemu satu minggu sekali dalam hari yang tak tentu. Entah dia ke rumahku, atau kita jalan berdua, atau jalan bersama teman-teman yang lain. Aku sendiri merasa biasa saja. Menganggap itu bukan persoalan besar. Kita tak pernah chat yang harus tiap hari bahkan tiap menit.
Dia membuatku tertawa dengan lelucon kecil, membuatku nyaman dalam dekapannya, membuatku gila karena tingkah lakunya. Mungkin sejak saat itu tipe cowokku berubah, tipe humoris.
Lagi-lagi dia yang menerima segala kekuranganku, mengerti semua kegilaanku, mengerti semua kesukaan dan kebencianku. Menerima segala sifat burukku. Yang kadang aku marah, kadang aku cerita panjang lebar tanpa jeda, kadang aku innocent, kadang aku sinis, kadang aku gajelas, kadang aku jahat, kadang aku bodo amat sama tingkah lakunya.
Aku yang tak pernah peduli dia mau jungkir balik seperti apa, tapi dia tetap memberikan perhatian.
Kita juga pernah mengalami LDR selama delapan bulan. Selama itu juga tak pernah bertatap muka. Tapi saat itu juga aku tau dia sayang dan aku percaya. Karena kunci LDR adalah saling percaya. Kita memang jarang chat dan tak pernah bertatap muka. Tapi dia selalu sempatkan setiap malam telepon dengan guyonan receh yang kadang bikin bete. Dia akan tutup telepon setelah aku terlelap tidur dan tak ada jawaban saat dia berulang kali memanggilku.
Seperti itu cara dia mengekspresikan rasa rindu. Hanya menungguku terlelap dari jauh lewat sambungan telepon. Kadang aku iseng coba matiin telepon karena kuping udah panas. Kadang aku pura-pura gak jawab waktu dia manggil2 biar dikira aku udah tidur nyenyak. Kadang yang jawab telepon adalah teman-teman satu kos yang gajelas apa yang dibahas.
Tapi hubungan kita baik-baik saja.
Setelah drama LDR kita akhirnya bisa merasa dekat kembali. Dia sering memberi kejutan kecil, dia bukan tipe cowok romantis tapi kadang geli saat dia mencoba menjadi romantis seperti yang aku minta. Kadang aku kode kode biar diberi bunga mawar, tapi malah dikasih bunga kamboja bersama pot dan tanahnya. Kadang aku bilang pengen coklat, dia beri coklat chacha. Tapi setiap ulang tahunku dia tak pernah bercanda.
Mungkin dia kebal dengan sikapku yang kekanak-kanakan, yang labil, seperti "Aku minta putus". Awal-awal dia panik, kok tiba-tiba aku bilang putus padahal gak ada masalah. Tapi lama kelamaan mungkin dia paham. Setiap aku bilang "Aku minta putus" pasti dia hanya diam dan tidak menghubungiku, karena aku pasti sepuluh menit atau satu jam kemudian bakal bilang "Ayo balikan". Semudah itu bilang putus dan minta balikan. Padahal hubungan tidak sebercanda itu. Tapi dia menyikapi dengan tenangnya.
Aku yang kadang ngomel gak jelas, dia yang akan selalu diem saat aku marah-marah, saat aku ngambek, saat aku usil. Sebegitu dewasakah dia saat itu?
Jika kalian kira hubunganku baik-baik saja, kalian salah. Buktinya kita berpisah setelah dua tahun bersama. Bukankah setiap hubungan yang kandas pasti ada penyebabnya.
Ya
Setelah cerita konyol yang telah dilalui, tiba saatnya cerita pilu dimulai.
Dia adalah mantan pacar sahabatku. Aku mengenalnya saat dia masih berstatus sebagai pacar sahabatku. Tapi yang jelas, aku berpacaran dengannya, setelah mereka berdua putus sudah lama.
Canggung memang, tapi aku dan sahabat2ku merasa biasa saja. Karena kita berhak untuk memilih.
Sampai akhirnya diusia hubungan kita yang cukup lama, aku mengetahui fakta bahwa pacarku pernah berhubungan badan dengan sahabatku.
Waktu itu aku hanya diam, mendengarnya saja aku tak ingin. Jika mereka berhubungan saat masih pacaran aku rasa tak akan sesakit ini. Permasalahannya mereka berhubungan saat sudah putus dan dia telah menjadi pacarku.
Tapi bodohnya aku masih menerimanya lagi dengan berbagai cara permintaan maafnya.
Aku dan sahabatku tetap baik, kita tak pernah menjadi musuh, meskipun telah banyak hal kelam yang terjadi.
Dia memang tak pernah berniat untuk merenggut masa depanku, yang aku tau dia selalu menjagaku dari hal-hal negatif. Hal negatif yang dia lakukan. Mungkin normal setiap pasangan berpegangan tangan ataupun berciuman. Dia juga selalu menjagaku dari teman-teman nakalnya, yang mungkin saja berniat buruk kepadaku. Tapi yang aku ingat, dia ingin menjagaku, tak ingin merusakku, dan tak ingin aku masuk ke dunia kelamnya.
Setelah kepergian ayahku, mungkin aku cukup terpuruk. Dia selalu support, selalu berusaha membuatku tertawa, selalu ingin menjadi laki-laki yang akan melindungiku setelah ayah pergi.
Tapi nyatanya aku memilih pergi, aku tak ingin bersamanya. Karena setelah ayah pergi aku ingin menata masa depanku, aku tak ingin membuat ayah kecewa.
Kenapa aku memilih pergi, karena meskipun dia menjagaku,tapi bukankan itu semua bukan jaminan masa depan. Bukan tak mungkin suatu saat nanti jika aku tetap bersamanya apa yang terjadi pada sahabatku juga menimpaku. Terlebih saat itu aku goyah, aku rapuh. Aku tak ingin itu terjadi. Sungguh tak ingin.
Mungkin sebagian orang berpikiran sama, hal apa saja yang dilakukan ketika telah menjadi pacar. Yang jelas pacaran bukan hanya bergandengan tangan, ciuman, bahkan berhubungan badan. Pacaran adalah suatu komitmen untuk saling menjaga. Memang cara berpacaranku masih normal, tidak sampai mahkota itu terenggut. Meskipun gaya pacaran kita normal, meskipun dia akan menjagaku. Yang jelas setelah aku mengetahui fakta yang menyakitkan, aku berpikir ulang, memikirkan kemungkinan2 terburuk yang akan terjadi kedepannya jika kita masih bersama. Dan aku berpikir bahwa tujuan kita tidak sama. Pengertian kita tentang "Pacaran" berbeda.
Hidup itu pilihan. Dan aku memilih untuk tak lagi bersamanya. Dan dia mengerti keputusanku. Meskipun awalnya dia tetap menghubungiku, datang ke rumahku. Tapi aku bersikap seolah tak ingin mengenalnya, sama seperti saat pertama kita kenal. Aku tak pernah membalas setiap pesan singkatnya. Aku tak pernah mengangkat teleponnya, dan aku tak pernah menemuinya meski dia di depan rumahku.
Waktu berjalan, aku memilih sendiri. Dan dia sudah menemukan seseorang yang mungkin tempat dia berbagi cinta. Bukan aku lagi. Tapi perempuan lain.
Aku merasa bahagia saat dia tersenyum, setidaknya dia telah menemukan orang yang lebih baik untuk menerimanya.
Beberapa saat kemudian aku bertemu lagi dengannya. Canggung?? Tidak. Karena kita memutuskan untuk berteman dan tak bermusuhan.
Dan asal kalian tau, aku dan semua mantan2ku akan selalu akrab, tidak ada kata musuh ataupun pura-pura tidak kenal.
Saat ini kita memilih jalan yang kita kehendaki, seandainya aku masih bersamanya, mungkin takdir akan berkata lain.
Kita pernah nyaman dengan jarak yang ada. Lalu, bisa jadi, sekarang, kita mulai berjarak karena rasa nyaman itu pelan-pelan tiada.
Citra Ayu V


2 comments
Aku salah satu pembaca blog mu. Sepertinya blog mu bulan agustus ini sendu. Dengan gaya bahasa yang berbeda.
ReplyDeleteSudahi saja galau dan rasa gundahmu. Bentar lagi 17 agustus.
Fight
Thankyou udah baca cerita anak galau ini.
DeleteKapan-kapan jangan anon yaa. Biar kenal.
Siapa tau jodoh. eh
Siapa tau bisa jadi temen